Thursday, 7 December 2017

Renungan

Image: Pexels.com
"Dan di sinilah kita. Kembali dengan kesalahan yang sama. Penyesalan yang sama. Tangisan yang sama.
Tapi kuharap, biar pun cuma sedikit, ada senyum yang merekah dalam apa pun yang sedang kita jalani.
Aku. Diriku. Kamu. Dirimu. Dan mereka.
Tidak lain yang kita kejar selain kebahagiaan yang terasa jauh. Semakin mengejar dan terasa semakin menjauh. Air mata itu jatuh dalam diam saat kita saling menyakiti. Berpikir penderitaan orang lain dapat membebaskan penderitaan kita sendiri. Sebuah janji akan kebahagiaan semu yang diberikan Sang pendosa. Begitu pun, tetap kita terima. Karena keputus asaan ini tidak lagi mengenal logika. Apa pun itu. Apa saja. Benar atau salah tidaklah penting. Hanya setitik harapan pun tidak apa.
Beginilah kita. Kita dalam keputus asaan akan kebahagiaan. Sebegini menyedihkannya.
Tersenyumlah. Biar pun sekarang terasa sakit, tapi itu masih lebih baik dari kehampaan tidak merasakan apa pun.
Tersenyumlah. Jika mengingat mereka membuatmu sakit, maka lupakanlah. Petik pelajaran untuk hidupmu secukupnya saja dan lepaskan rasa sakit itu pada masa lalu yang tidak akan kembali itu.
Tersenyumlah. Ini hidupmu. Kebahagiaanmu adalah segalanya. Karena dirimu adalah apa yang paling berarti. Sekarang dan selamanya.
Kau tidak perlu merendahkan mereka untuk menunjukkan seberapa tinggi tempatmu.
Kau tidak perlu membalas penghinaan mereka hanya untuk menghancurkan kemuliaan yang diberikan padamu.
Kau dan Tuhanmu telah lebih dari cukup untukmu"
😊

Jadi..., entah kenapa ini yang pertama kali saya tulis ketika mengisi lembar kosong post pertama ini.
Ada kalanya kata-kata itu mengalir begitu saja tanpa perlu didikte. Dan di saat yang lain, jadi stuck dan sulit sekali terucap. #ngomong apa sih

No comments:

Post a Comment